HomeStories

Dikhianati Ekspektasi

07 August, 2021 - 6 min read

It's not good for ourself to have high expectation on something, someone, or a company, right?

Tulisan ini adalah tentang apa yang gue lakukan di bulan juli atau sebulan sebelum tulisan ini ditulis, bisa dibilang semacam retrospektif i think.

Juli adalah bulan dimana gue menaruh banyak ekspektasi yang tinggi didalamnya. Mulai dari pekerjaan sampai urusan hati. Bulan ini juga merupakan bulan kelahiran gue dimana gue berharap bakal banyak hal baik yang gue dapatkan.

Tapi akhirnya bulan juli berkata lain.

Pekerjaan

Bulan Juli adalah bulan pertama gue bekerja di sebuah perusahaan yang bertempat di Kota Gudeg. Gue pernah punya cerita dengan perusahaan ini semasa gue ambil internship disana.

Tapi cerita yang gue punya kebanyakan tidak baik, dan membuat gue untuk menyudahi masa intern gue disana. Sebenarnya rekan-rekan yang ada disana itu baik ke gue dan sebaliknya, kita selalu berdiskusi tentang tugas kantor, teknologi baru, berkeluh kesah tentang bug dan hari ini.

gue merasa gue berkembang dari situ, baik dari segi teknikal dan segi yang lainnya.

Namun ternyata semua hal baik itu memang harus diimbangi dengan hal buruk.

gue punya beberapa masalah yang gue anggap masalah besar ketika disana. Yang akhirnya membuat gue memutuskan untuk tidak melanjutkan masa intern disana.

2 years later

Awal tahun 2021 tepatnya 26 Februari, gue menyelesaikan masa studi gue di salah satu kampus swasta di Kota Gudeg. gue memutuskan untuk take a rest sekitar 1-2 bulan sekalian menghabiskan Bulan Ramadhan dan Idul Fitri dirumah selagi bisa.

Bahkan gue sempat berandai-andai, mungkin 2021 adalah tahun terakhir gue merayakan Idul Fitri dirumah bersama dengan keluarga karna di tahun selanjutnya mungkin gue gabisa balik karna satu masalah dan yang lain (bisa jadi juga karna kerjaan)

Selama dirumah, gue mencoba mencari lowongan pekerjaan di internet. Lalu gue menemukan sebuah postingan dari perusahaan yang dulu gue pernah intern disitu (literally yang gue ceritain di paragraf-paragraf sebelumnya) sedang membuka lowongan untuk posisi yang gue cari.

gue langsung mengontak salah satu teman gue yang masih bekerja disitu untuk memastikan apakah masih lowongan tersebut saat ini masih tersedia atau tidak. Setelah mendapat jawaban darinya, gue langsung mengirim lowongan dan mengikuti interviewnya.

Kenapa gue apply lagi?

gue pada saat itu berpikir, mungkin dengan sudah berlalu sekitar 2 tahun bakalan ada banyak perubahan yang terjadi disana baik dari segi kultur, sistem, dan tim yang ada. Tentunya yang gue harapkan adalah perubahan yang lebih baik.

gue menaruh ekspetasi gue setinggi mungkin disitu, walaupun banyak yang bilang tempat nya jauh dari lokasi gue tinggal di Jogja tapi pasti ada benefit yang bisa nutupin itu. Banyak yang bilang gaji yang di dapat tidak seberapa, tapi langsung gue bantah dengan keyakinan gue bisa berkembang lebih pesat lagi disitu.

gue menaruh ekspektasi yang tinggi disitu.

gue mendapat pesan bahwa mereka tertarik untuk merekrut gue sebagai salah satu bagian dari tim pengembang produk mereka tepat setelah gue wisuda, dikatakan bahwa gue harus menjalani masa probasi terlebih dahulu sebelum resmi menjadi karyawan tetap disana. Beberapa teman gue mengatakan bahwa itu kado terindah yang gue dapatkan.

Karna ya kelar kuliah langsung kerja :)

Fast forward to day one. gue mengenalkan diri gue ke dalam tim, menjalani onboarding, serta melakukan setup environment, dan mendapatkan task pertama.

Minggu pertama gue merasa semangat dalam mengerjakan task. Mengetik dari jam 8 pagi sampai jam 2 malam setiap hari, eksplor hal baru yang berkaitan dengan produk yang sedang dikembangkan, dan berinteraksi dengan rekan-rekan baru disana. Bahkan sampai dibuatkan sebuah server discord supaya semakin mudah berinteraksi satu sama lain.

Tapi semua semangat itu perlahan hilang di minggu-minggu selanjutnya. Masalah yang gue alami semasa intern dulu ternyata terulang lagi dan bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Ditambah lagi gue mendapat kabar bahwa keadaan keluarga dirumah sedang tidak baik-baik saja membuat pikiran gue kacau.

Bahkan ketika Idul Adha, gue tidak merasakan hype-nya sama sekali karna setelah melakukan Sholat Ied gue langsung membuka laptop untuk menyelesaikan task gue yang belum selesai.

Hingga gue merasa task yang gue anggap awalnya adalah kebutuhan akhirnya menjadi beban. Tidak terasa hype-nya untuk exploring more lagi. Merasa tidak ingin mengikuti Daily Standup yang diadakan setiap hari.

gue berpikir sepertinya ada yang ga beres, lalu gue coba discuss dengan beberapa orang disana dan gue tidak mendapat jawaban yang gue inginkan.

Akhirnya gue kirim surat resign via email dan beberapa hari setelahnya gue resmi keluar.

gue merasa ekspektasi tinggi yang gue taruh disitu menghianati gue secara perlahan. Pikiran gue yang mengira bahwa selama dua tahun bakalan berkembang menjadi lebih baik ternyata salah kaprah. Semua masih sama saja, yang beda hanya lokasi dan orang-orang didalamnya.

Kemudian pada bulan saat tulisan ini dibuat, gue sedang mencari tempat baru untuk disinggahi sembari grinding skill.

Urusan Hati

Kalau bagian ini gue rasa gak pernah beres sejak gue jadi embrio sampe sekarang deh hahaha, jk.

Tapi setelah bertahun-tahun gue jadi badut dan menikmati hempasan ombak friendzone akhirnya gue beranikan diri untuk confess about my feeling. Untuk bagian ini gue menaruh ekspektasi gue, tapi ngga setinggi di bagian sebelumnya.

Karna gue sadar diri kalo gue hanya sedikit berkontribusi di kehidupannya dan gue rasa kalo misalnya diterima, itu bonus. Yang penting perasaan gue sudah tersampaikan dan bakal ngebuat pikiran jadi lebih lega.

Ya dan akhinya udah bisa kalian tebak, gue ditolak karna doi udah ada cowok yang lain. Sebuah hasil yang sudah gue perkirakan. Tapi tetap gue ngerasa dikhianati oleh ekspektasi gue sendiri.

Tambahan, sampe sekarang gue masih sering stalkingin sosmed doi buat tau kabarnya gimana. Gue ngerasa walaupun cuman liat dari sosmednya tapi itu udah cukup banget dan bikin gua ngerasa baikan di hari itu juga.

Urusan hati itu rumit banget ya.

Penutup

Setelah yang gue alami di bulan juli kemarin, saat ini masih belum tau mau melangkah kemana. Masih coba ngelakuin apa yang bisa gue lakuin. Gue akhirnya nulis lagi, coba ngerjain side project, exploring sama practicing teknologi yang sedang gue pelajari. hopefully di bulan-bulan yang akan datang gue dapet tempat baru untuk berkarya dan "rumah" untuk pulang dan berkeluh kesah sepuasnya.

Gue juga coba belajar untuk me-manage ekspektasi gua supaya kedepannya bisa bersahabat dan ga mencoba buat mengkhianati lagi.

Apa yang terjadi di bulan juli kemarin gue anggep sebagai pengalaman yang sangat berharga dan bakalan gue jadiin bekal buat menjalani bulan-bulan selanjutnya.

Kalo kata mas ijul di tulisannya, baru juga masuk usia 20-an belum ada setengahnya tapi rasanya kayak dipaksa ikut naik turun roller coaster kehidupan yang tegangnya mirip kayak yang di trans studio bandung, cuman durasinya lebih lama aja.

Mencoba buat simplify hidup, gimana hidup yang simpel tapi penuh makna ngejalaninnya.

Mencoba melangkah perlahan, mempersiapkan diri untuk tempat dan lembaran yang baru.

Jam sudah menunjukkan pukul 16:00 WIB dan kopi gue udah abis, waktunya untuk pulang ke kos. Thanks udah mau baca cerita gue, DM gue terbuka lebar kalo lu ada keluh kesah yang perlu dibuang.

Nanti sekalian gue ceritain tentang hari ini sama kisah nabi-nabi. Have a nice day, anw!

© 2021, Built with ❤️ using

Gatsby