All Stories

On Practicing Digital Minimalism

02 June, 2021 - 6 min read

Digital Minimalism - istilah yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kamu, saya, dan kita. Istilah ini tengah populer di kalangan generasi abad 21 ini, terutama bagi yang menggunakan smartphone (hampir semuanya pakai sih, seharusnya familiar dengan ini).

Sekitar 2 minggu yang lalu, saya merasa kalau pikiran saya sedang tidak karuan. Tidak bisa fokus ketika menyelesaikan suatu pekerjaan, selalu tidak tenang, selalu cemas karna ada sesuatu yang selalu menghantui tapi saya tidak tau apa itu, selalu ingin tau kabar tentang teman saya terutama dia yang saya sukai (kemarin-kemarin ada, sekarang sudah tidak ada). Akhirnya, saya mencoba mencari tau..

Kenapa ini bisa terjadi?

Kemudian saya menemukan sebuah video di youtube yang berjudul "On Marissa's Mind: Digital Minimalism", video ini dibuat dan dipublikasikan oleh sebuah channel bernama Greatmind. Saya coba tonton dan menemukan sebuah istilah yang menurut saya menarik untuk dipelajari. Yups, istilah tersebut adalah judul dari tulisan ini, Digital Minimalism.

Ketika menonton video tersebut, saya mendapat sebuah referensi dimana bisa mencari tau istilah tersebut lebih dalam lagi, yaitu pada sebuah buku yang ditulis oleh Cal Newport berjudul Digital Minimalism. Saya pun mencari buku tersebut di internet, mengunduh, dan mulai membacanya.

Menurut Cal Newport, Digital Minimalism adalah filosofi penggunaan teknologi dimana seseorang memusatkan waktu online-nya hanya pada segelintir aktifitas yang telah dia pilih dengan cermat dan membawa dampak optimal bagi dirinya.

Dengan kata lain, seorang digital minimalist dengan senang hati mengabaikan semua aktifitas online yang tidak memberi nilai tambah bagi dirinya. Yang kemudian dapat mengembalikan lagi kemampuan konsentrasi dan atensi ke hal-hal yang penting atau sedang dikerjakan.

Istilah ini sebenarnya merujuk pada istilah Minimalisme, dimana ketika kita menerapkan konsep minimalisme pada rumah, kita akan bertanya pada diri sendiri "Apakah barang ini berguna bagi saya?" Kalau ya, silahkan untuk disimpan dan dirawat. Kalau tidak, ya ucapkan selamat tinggal pada barang tersebut.

Digital Minimalism menerapkan konsep tersebut pada aplikasi yang ada di ponsel pintar kita. Saya akan bertanya kepada diri kita sendiri

"Apakah aplikasi ini membawa nilai tambah ke hidup saya?"

"Apakah aplikasi ini berguna dalam hidup saya?"

Jika jawabannya iya, maka aplikasi itu akan tetap berada di dalam ponsel saya. Jika tidak, saya hapus aplikasinya. Penggunaan aplikasi pada ponsel pintar saya jadi sangat jelas dan spesifik.

Setelah saya membaca beberapa halaman dari buku tersebut, saya coba mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan diatas ke diri saya sendiri dan menghapus beberapa aplikasi yang menurut saya kurang membawa nilai tambah dan tidak terlalu berguna dalam hidup saya. Termasuk Instagram, Twitter, dan Youtube.

Saya hanya menghapus aplikasinya di ponsel pintar saya, namun akun saya tetap log-in di browser saya. Khusus media sosial seperti Instagram dan Twitter, saya hanya mem-bookmark link untuk mengakses laman pesan langsung (Direct Message) saja.

Hal ini saya lakukan untuk membatasi dan memperjelas tujuan saya membuka dua media sosial tersebut, yaitu hanya untuk mengecek apakah terdapat pesan masuk di akun saya. Cara itu juga membuat saya sedikit sulit mengaksesnya karna harus membuka browser kemudian membuka tab bookmark dan baru bisa mengakses link-nya, sehingga membuat saya menjadi jarang mengecek kedua media sosial tersebut.

Tujuan saya melakukan hal tersebut adalah untuk mencegah saya kecanduan akan dua hal tersebut dan melakukan mindless scrolling yang dapat mengganggu atensi saya. Setelah membaca buku Digital Minimalism, saya menjadi lebih protektif terhadap atensi saya karena apa yang saya lihat atau dengar dalam keseharian saya sangat berpengaruh pada cara pandang dan kualitas hidup yang saya miliki.

Karena menggunakan teknologi digital yang sembrono membuat pikiran penggunanya keruh dan sulit fokus. Penelitian menunjukkan orang yang kesulitan fokus, pikirannya cenderung negatif atau hanya berkutat pada apa yang salah dalam hidup, melupakan apa yang sebenarnya berjalan baik. Dia juga lebih sering cemas, lelah mental, bahkan depresi.

Lalu bagaimana dengan waktu yang sebelumnya saya habiskan dengan bermain aplikasi pada ponsel pintar saya termasuk media sosial?

Saya alihkan waktu tersebut ke beberapa hal dan kegiatan yang membuat saya meraih pencapaian-pencapaian kecil yang menurut saya berarti serta membuat saya bahagia dan lebih semangat dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Beberapa diantaranya akan saya jelaskan dibawah ini:

  • Saya bersama bapak membuat kebun kecil dibelakang rumah yang isinya adalah berbagai macam sayuran seperti selada, terung, tomat, dan cabai. Saat ini saya sudah memanen selada yang akhirnya digunakan sebagai lalapan, lalu untuk tomat dan yang lain sudah mulai berbunga dan berbuah.
  • Saya juga sedang bereksperimen dengan menanam daun mint dan sentiet yang saat ini untuk tanaman sentietnya sudah mulai tumbuh.
  • Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kelas premium dari dicoding secara gratis dengan menggunakan beasiswa dari IDCamp yang diadakan oleh Indosat Ooredoo. Kelas yang saya ikuti adalah kelas Front-End Developer.
  • Saya mulai mengembalikan lagi kebiasaan membaca saya yang dulu sempat terganti dengan scrolling-scrolling. Saya sedang mencoba untuk menyelesaikan trilogi terkenal dari Cal Newport yaitu Deep Work, Digital Minimalism, dan So Good They Can't Ignore You. Saat ini saya sudah menyelesaikan Digital Minimalism dan sedang membaca Deep Work. Saya banyak mendapatkan insight dan notes baru dari sana.
  • Saya juga kembali aktif belajar pemrograman, mencari contoh project dari online repository seperti github lalu membongkar dan mencoba memahami kodingannya. Saya juga selalu mendapat ide baru dalam membuat mini project, pun ketika menulis tulisan ini saya tiba-tiba mendapat ide baru yang mungkin nanti akan saya eksekusi.
  • Saya mencoba merekatkan kembali hubungan saya dengan keluarga, saudara, sepupu, dan teman-teman dekat saya dengan berbagai macam. Saya berusaha untuk menjaga inner circle saya menjadi kuat kembali hubungannya.
  • Saya mengunduh sebuah offline farming-game simulator bernama Stardew Valley dan memainkannya dalam mode Do Not Disturb untuk menghindari notifikasi masuk, saya memainkan game ini ketika sedang beristirahat.

Beberapa hal diatas adalah contoh kegiatan yang saya lakukan dengan waktu saya yang sebelumnya saya alokasikan untuk scrolling dan menonton random video secara terus-terusan. Masih banyak lagi hal dan kegiatan yang saya lakukan.

Intinya adalah atensi itu seperti emas, mahal. Maka dari itu, baiknya kitalah yang menggunakan teknologi, jangan sampai kita biarkan teknologi yang menggunakan kita. Kita yang meraup manfaat sebesar-besarnya dari teknologi, bukan sebaliknya.

Kemudian untuk masalah FOMO atau Fear Of Missing Out, saya percaya dengan sebuah kalimat yang saya dapatkan dari sebuah tulisan orang lain dan sudah pernah saya sisipkan di tulisan saya sebelumnya yaitu

Semuanya akan baik-baik saja, dan tidak akan ada yang berubah apalagi mencari. Dan jika memang ada yang mencari, mereka akan tahu harus pergi kemana.

Buat kamu yang sudah membaca tulisan ini sampai baris ini, terimakasih banyak dan have a nice day!

© 2021, Built with ❤️ using

Gatsby