All Stories

Tentang Latte Factor

12 March, 2021 - 2 min read

Beberapa bulan yang lalu saya nonton videonya Satu Persen yang judulnya Cara Nabung Tanpa Merasa Tersiksa dan menemukan sebuah istilah yang menarik menurut saya, yaitu Latte Factor.

Latte Factor adalah sebuah istilah yang dibuat sama pak David Bach, seorang motivator, publik figur, sekaligus pengusaha. Kata Beliau, Latte Factor ini biasa dilakukan sama orang-orang buat ngabisin penghasilan mereka untuk hal-hal kecil yang mereka beli setiap hari.

Jadi keinget beberapa semester lalu, waktu masih sering keluar buat ngopi. Dalam seminggu bisa sampe 4 – 5 kali ke kedai kopi, mulai dari yang biasa masih pakai kopi sachet-an sampe yang berlabel coworking space.

Rata-rata harga kopi yang saya beli itu sekitar 20 ribuan ke atas, dan jika ditotal dalam waktu seminggu saya bisa menghabiskan sekitar 80-100 ribu hanya untuk ngopi. Belum lagi untuk uang jalan ke kedai kopinya, beli makanan ringan untuk temen ngopi, dan lainnya.

Akhirnya kondisi keuangan jadi memburuk, yang dulu sebelum kenal ngopi, uang jatah seminggu itu masih cukup kemudian malah jadi habis sebelum seminggu. Rencana umtuk beli kebutuhan lainnya seperti makan, buku, servis motor, dan yang lainnya jadi tertunda.

Ilmu yang dulu dipelajari waktu SD dan SMP tentang pembagian jenis kebutuhan pun akhirnya kepake juga. Membagi menjadi primer, sekunder, dan tersier.

Primer berupa pangan, sandang, dan papan. Sekunder yang berupa barang yang dibutuhkan tapi tidak terlalu mendesak. Kemudian yang terakhir adalah tersier yaitu barang yang diinginkan tapi tidak terlalu dibutuhkan, seperti jajan kopi, beli nintendo switch (Ya Allah, semoga segera kebeli!), dan yang lainnya.

Berusaha buat mengendalikan diri sendiri juga supaya ngga sering khilaf lagi, karena sekecil apapun pengeluaran ya tetap pengeluaran. Semoga kedepannya kondisi keuangan saya dan teman-teman bisa lebih aman dan baik lagi.

© 2021, Built with ❤️ using

Gatsby